Wednesday, July 18, 2007

Naskah Legendaris

18 Juli 1913. Hari ini, 94 tahun silam, tulisan Soewardi Soerjaningrat berjudul Als Iks een Nederlander Was (Seandainya Saya Orang Belanda) diterbitkan. Tulisan tersebut tidak hanya menjadi puncak dari radikalisme seorang Soewardi, melainkan juga menjadi contoh terbaik dari ketakutan pemerintah kolonial atas teks subversif yang ditulis seorang bumiputera.

Dengan mengandaikan dirinya sebagai orang Belanda, Soewardi mengajak orang Belanda untuk berpikir: Tidakkah mengajak rakyat Hindia-Belanda yang terjajah untuk merayakan kemerdekaan tuannya akan membawa rakyat Hindia-Belanda membayangkan saat-saat menggembirakan hati rakyat Belanda sewaktu bebas dari kangkangan Napoleon?

Di awal-awal, pembaca akan sukar menebak mau ke mana arah tulisan Soewardi. Tetapi menginjak pada paragraf keempat, arah yang ingin disasar itu pelan-pelan mulai menyingsing. Dia menulis: “…Sebagaimana halnya orang Belanda yang nasionalis sejati mencintai tanahairnya, saya pun mencintai tanah air sendiri…. Alangkah gembiranya hati, alangkah nikmatnya dapat turut memeringati hari nasional yang demikian penting artinya.”

Tulisan legendaris ini diterbitkan oleh Komite Boemipoetra oentoek Peringatan 100 Tahoen Kemerdekaan Negeri Belanda. Komite dibentuk sebagai respons penolakan para aktivis pergerakan atas permintaan pemerintah kolonial agar penduduk di Hindia secara sukarela menyumbang uang untuk membiayai perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas pendudukan Prancis.

Orang-orang seperti Soewardi Soerjaningrat atau Dr. Tjiptomangoenkoesoemo tidak bisa menerima bagaimana kemerdekaan bangsa penjajah mesti dirayakan oleh anak bangsa yang masih terjajah. Komite Boemipoetra oentoek Peringatan 100 Tahoen Kemerdekaan Negeri Belanda berikut tulisan Als Iks een Nederlander Was merupakan puncak perlawanan atas perayaan kemerdekaan Belanda yang mesti ditanggung pula oleh rakyat Hindia-Belanda.

Pada seperempat bagian akhir tulisannya, persisnya 9 paragraf menjelang tulisannya berakhir, Soewardi menulis sebuah kalimat dengan nada seperti seorang ksatria, barangkali seperti Scarlet Pimpernal dalam cerita Barones Orczy, yang baru saja membuka topengnya dan berujar: “Syukur alhamadulillah, saya bukan seorang Belanda.”

Persis setelah kalimat yang membelokkan tulisan Soewardi ke arah yang lebih tegas itu, Soewardi lantas menulis: “Sekarang sebaiknya kita kesampingkan saja segala ironi.”

Setelah kalimat itu, nada tulisan Soewardi kian jelas. Ada dua pokok yang disampaikan Soewardi secara tegas dan lugas di akhir tulisannya yang paling legendaris ini. Pertama, penolakan tegas dan tanpa kompromi akan ide perayaan kemerdekaan Belanda di Hindia-Belanda. Kedua, tuntutan agar segera dibentuk sebuah badan perwakilan rakyat, semacam parlemen barangkali.

Mulanya, pemerintah tidak terlalu menganggap serius tulisan Soewardi ini. Pemerintah baru bereaksi keras menyusul diedarkannya terjemahan Melayu tulisan tersebut. Aparat kejaksaan menyitanya dari pelbagai toko buku dan kantor-kantor suratkabar. Soewardi sendiri, plus Tjipto, Douwes Dekker (yang bertanggung jawab atas pemuatan di koran de Express yang dipimpinnya) dan Abdoel Moeis (yang menerjemahkannya ke dalam bahas Melayu) ditangkap dan diiinterogasi.

Brosur itu kemudian dicatat Schavitri Scherer sebagai esei paling berkesan, tajam, dan provokatif yang isi pandangannya mendahului setiap gagasan yang dikemukakan cendekiawan-cendekaiwan Jawa lain yang paling sadar politik sekali pun. Dalam nada yang nyaris sama, Takashi Shiraishi menyebut naskah tersebut sebagai “the most radical writing by a native until then”.

Lewat brosur Soewardi-lah pemerintah kolonial disadarkan bahwa perlawanan sudah menemukan bentuknya yang baru dan tegas. Hanya sejak brosur Soewardi terbit sajalah pemerintah benar-benar secara sungguh-sungguh menganggap kritik-kritik sebagai sebuah ancaman berat terhadap kemantapan pemerintah kolonial. Sebelumnya, paling banter gagasan-gagasan galak itu hanya beredar di kalangan terbatas saja.

2 comments:

nasab said...

kira-kira di mana saya dapat mengakses naskah legendaris ki hadjar dewantara itu? tertarik sekali untuk menyimaknya. terima kasih

Anonymous said...

awal yang baik

_____________________________________ Jurnal