Saturday, June 9, 2007

Revolusi Setengah Hati

9 Juni 1946. Hari ini, 61 tahun silam, Kongres Pemuda ke-II digelar di Jogjakarta. Amir Sjarifuddin, Menteri Pertahanan dalam Kabinet pimpinan Soetan Sjahrir, datang mengunjungi arena Kongres Pemuda ke-II dan sempat memberikan pidato sambutan.

Dalam sambutannya, Amir Sjarifuddin berbicara panjang lebar tentang peran penting angkatan muda dalam upaya memertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara, baik itu ancaman dari luar maupun dari dalam. Amir Sjarifuddin mengingatkan ihwal hubungan yang intens antara angkatan muda dengan revolusi Indonesia.

Amir juga beberapa kali menyebut angkatan muda sebagai pelopor revolusi. Karena itulah angkatan muda perlu memahami keterhubungan dirinya dengan revolusi, kata Amir, “Sehingga jangan sampai angkatan muda justru terpisah atau dipisahkan dari revolusi.”

Sebenarnya, hubungan pemerintahan Soetan Sjahrir yang didukung Amir Sjarifuddin dengan para pemuda sedang diambang krisis. Ini berbeda dengan pada saat bulan-bulan pertama pemerintahan Sjahrir.

Para pemuda awalnya menaruh harapan yang tinggi pada duet Sjahrir-Amir Sjarifuddin. Keduanya menjadi pemimpin alternatif yang bisa memecahkan kebuntuan dalam kepemimpinan nasional yang terlalu banyak diisi orang-orang yang sempat “bekerjasama” dengan Jepang.

Soetan Sjahrir memang menjauhi Jepang selama pendudukan. Sjahrir juga tidak terlibat dalam rapat-rapat BPUPKI dan proklamasi kemerdekaan. Dengan diam-diam, Sjahrir terus membangun kontak dengan para pemuda yang terlibat pada gerakan perlawanan bawah tanah anti-Jepang.

Begitu juga Amir Sjarifuddin. Dia bahkan sempat membangun kontak dengan pihak Belanda dalam usahanya mengembangkan gerakan perlawanan bawah tanah. Sayangnya aktivitas Amir berhasil diendus pihak Jepang. Pada 30 Januari 1943, Amir pun ditangkap Kempetai (intelijen politik Jepang) dan pada 29 Februari 1944 dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang di Jakarta. Hanya berkat intervensi Soekarno dan Hatta sajalah hukuman mati itu bisa diubah menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Sjahrir dan Amir pada saat yang bersamaan akhirnya masuk dalam pemerintahan pada November 1945 sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan. Pada Desember 1945 keduanya sepakat meleburkan Partai Sosialis Indonesia yang didirikan Sjahrir dengan Partai Rakyat Sosialis yang dipimpin Amir menjadi partai baru bernama Partai Sosialis.

Masuknya Sjahrir dan Amir dalam pemerintahan Indonesia dilatari oleh keinginan untuk membuktikan pada dunia internasional kalau Republik Indonesia bukanlah negara hasil bentukan pemerintahan fasis Jepang.

Itulah sebabnya para pemuda Indonesia mulanya memberi respek yang tinggi pada kepemimpinan Sjahrir dan Amir. Belakangan, banyak kelompok pemuda yang kecewa karena kebijakan pemerintahan Sjahrir yang cenderung kooperatif dengan pihak asing, baik Sekutu maupun Belanda.

Pada momen itulah Tan Malaka muncul. Retorika “Merdeka 100%” yang dikampanyekan Tan Malaka berhasil memikat 146 organisasi massa untuk bergabung dengan Persatuan Perjuangan pada bulan yang sama dengan naiknya Sjahrir dan Amir sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan.

Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan menegaskan bahwa perundingan dan kerjasama hanya bisa dilakukan setelah Belanda dan Sekutu mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia dengan tanpa syarat. Tanpa pengakuan itu, Tan Malaka dan Persatuan Perjuangan menolak dengan tegas segala macam bentuk perundingan dan diplomasi.

Penangkapan Tan Malaka dan beberapa pengikutnya yang setia menyusul peristiwa penculikan Soetan Sjahrir pada 3 Juli 1946 membuat konsepsi perjuangan ala Tan Malaka menjadi layu sebelum berkembang. Di level gerakan, penangkapan Tan Malaka itu membuat gagasan perlawanan bersenjata sebagai satu-satunya cara memertahankan kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia menjadi sulit diwujudkan.

Pada titik itulah, kata Ben Anderson, revolusi Indonesia berakhir dengan dini.

No comments:

_____________________________________ Jurnal