Monday, July 9, 2007

Manusia Diaspora

9 Juli 1955. Hari ini, 52 tahun silam, 590 orang warga keturunan Indonesia yang menetap di Kaledonia Baru kembali ke tanah air. Peristiwa yang jarang sekali diungkap ini menunjukkan betapa kolonialisme Belanda telah melahirkan fenomena “manusia diaspora”.

Kaledonia Baru di kawasan Pasifik adalah satu dari sejumlah negara yang cukup banyak didiami manusia diaspora keturunan Indonesia. Suriname, Afrika Selatan, hingga Belanda juga banyak ditempati manusia-manusia diaspora yang berasal dari salah satu wilayah Indonesia.

Dalam kasus di Kaledoina Baru, manusia diaspora keturunan Indonesia datang pertama kali pada 15 Februari 1896 sebanyak 170 pekerja. Menurut riset yang dilakukan DR Jean Luc Maurer dari Universitas Jenewa, ada sekira 20 ribu orang keturunan Indonesia yang bermigrasi ke Kaledonia Baru. Mereka dikirim oleh pemerintah Hindia Belanda sebagai kuli kontrak di sejumlah perkebunan dan pertanian. Sebagian terbesar dari mereka berasal dari pulau Jawa.
Sewaktu masa kontrak kerja habis, kebanyakan di antara mereka kembali pulang ke Jawa, terutama pada rentang 1930 dan 1935, setelah terjadi malaise ekonomi pada 1929. Kondisi yang sama kembali terulang antara 1948 sampai 1955 dengan jumlah yang lebih besar, terutama pada 9 Juli 1955 yaitu 590 orang.
Riset yang dilakukan DR Jean Luc Maurer menjelaskan motif utama gelombang besar kembalinya para imigran dari Kaledonia Baru tersebut. Kabar ihwal kemerdekaan Indonesia menggugah para imigran di Kaledonia Baru untuk kembali ke tanah asal dengan harapan bisa memeroleh kehidupan yang lebih baik.

Pada periode itulah kebetulan pemerintah Indonesia memang sedang mulai menggalakkan program transmigrasi untuk memecahkan persoalan kemiskinan di pulau Jawa. Sebagian besar para imigran yang baru kembali dari Kaledonia Baru ini pun tak luput dikirimkan ke Sumatera sebagai bagian dari program transmigrasi.

Sementara orang-orang Jawa yang tetap memilih tinggal di Kaledonia Baru terus berkembang. Mereka membangun Komunitas Jawa dengan menjadi warga negara Kaledonia Baru. Sensus pada 1996 menunjukkan Komunitas Jawa di Kaledonia Baru mencapai lebih dari lima ribu orang.

Di Suriname, jumlah orang-orang keturunan Jawa jauh lebih besar. Survey terakhir yang dilakukan Kedutaan Indonesia di Suriname menunjukkan ada sekitar 70-an ribu orang keturunan Jawa di Suriname. Dari segi jumlah, mereka hanya dikalahkan oleh orang-orang keturunan India.

Di Suriname, komunitas Jawa jauh lebih berkembang. Bahasa Jawa terus bertahan sebagai salah satu cara wicara dan banyak orang-orang keturunan Jawa yang menempati jabatan-jabatan penting di Suriname.

Setiap tanggal 9 Agustus, orang-orang keturunan Jawa merayakan Hari Imigrasi Jawa. Tanggal itu dipilih sebagai Hari Imigrasi Jawa untuk mengenang momen di mana orang-orang Jawa pertama kali menginjakkan kaki di Suriname pada 9 Agustus 1890.
Dengan motif yang berbeda, sejumlah etnik di Indonesia juga memiliki tradisi bermigrasi atau tradisi merantau. Orang-orang dari Minang, Bugis, Makasar dan Madura memiliki tradisi merantau yang lebih berakar di dalam jantung kebudayaan masing-masing.

Manusia-manusia diaspora inilah yang mengalami benar situasi yang disebut oleh Naipaul sebagai “in-between”: situasi di antara, antara “tanah sekarang” dengan “tanah asal”. Mereka menyadari “daya sedot asal-usulnya” dan menyadari tuntutan untuk menyesuaikan diri dengan tempat yang mereka diami sekarang.

Dari perspektif multikulturalisme, dilema kebudayaan seperti itu berpeluang melahirkan pemahaman akan keragaman dengan cara yang khas. Bagi para “penduduk setempat” (native) sendiri, keberadaan riil “para perantau” membuat mereka menyadari betapa keragaman merupakan kondisi obyektif yang tak bisa disangkal.

Jika dikelola dengan baik dan ditopang oleh kemauan untuk berpikir terbuka, perserawungan lintas-budaya ini merupakan situasi budaya yang amat pas untuk menyemai sikap-sikap toleran.

No comments:

_____________________________________ Jurnal